Ketika Pendidikan Gagal Menjawab Pertanyaan Paling Penting: Apa Itu Sukses?
![]() |
| ilustrasi hidup bahagia |
Dulu, sukses terasa mudah dikenali. Seseorang dianggap berhasil ketika lulus sekolah dengan nilai baik, mendapatkan pekerjaan tetap, lalu hidup mapan.
Pendidikan dipahami sebagai jalan lurus menuju kehidupan yang lebih baik. Siapa yang rajin belajar, diyakini akan menuai hasilnya kelak.
Namun hari ini, pandangan itu mulai berubah. Banyak orang yang terlihat berhasil secara ekonomi, tetapi merasa lelah dan kehilangan arah. Di sisi lain, ada pula mereka yang tidak memiliki jabatan tinggi, tetapi hidupnya tenang, bermanfaat, dan penuh rasa syukur.
Dari sini, kita mulai bertanya: apakah sukses benar-benar hanya soal pencapaian?
Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, kesuksesan sering kali diukur dari apa yang tampak di luar: harta, gelar, dan pengakuan. Media sosial memperkuat ukuran itu.
Kita mudah terpesona oleh cerita keberhasilan, tetapi jarang melihat proses, kegagalan, dan pergulatan batin di baliknya. Akibatnya, banyak orang merasa tertinggal, padahal mungkin mereka hanya berjalan di jalur yang berbeda.
Pendidikan pun ikut terseret dalam arus ini. Sekolah dan perguruan tinggi sering lebih sibuk mengejar nilai, peringkat, dan kelulusan, dibandingkan membantu peserta didik memahami dirinya sendiri.
Anak-anak diajarkan cara menjawab soal, tetapi jarang diajak berdialog tentang tujuan hidup, nilai kebaikan, dan arti kebahagiaan. Padahal, hidup tidak selalu memberi soal pilihan ganda.
Nelson Mandela pernah mengatakan bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. Kalimat ini mengingatkan kita bahwa pendidikan seharusnya tidak hanya mencetak individu yang pintar, tetapi juga manusia yang peduli dan mampu membawa perubahan.
Sukses, dalam pandangan ini, bukan hanya tentang diri sendiri, melainkan tentang seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain.
Pemikiran serupa juga terlihat pada Maria Montessori. Ia percaya bahwa pendidikan yang berhasil adalah ketika anak mampu berpikir dan bertindak mandiri.
Artinya, tujuan belajar bukan sekadar lulus ujian, tetapi tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, bertanggung jawab, dan mampu mengambil keputusan dengan bijak.
Pandangan tokoh di Indonesia, Tan Malaka jauh-jauh hari telah mengingatkan bahwa pendidikan harus mencerdaskan pikiran, menguatkan kemauan, dan memperhalus perasaan.
Pesan ini terasa semakin relevan hari ini. Dunia mungkin membutuhkan orang-orang yang cerdas, tetapi dunia akan jauh lebih baik jika kecerdasan itu disertai nurani.
Karena itu, makna sukses perlahan bergeser. Sukses tidak lagi hanya soal memiliki banyak hal, tetapi tentang menjadi manusia yang utuh. Mampu bekerja dengan baik, tetapi juga mampu beristirahat.
Mampu bersaing, tetapi tetap peduli. Mampu bermimpi tinggi, tanpa kehilangan nilai kemanusiaan.
Di sinilah peran pendidikan menjadi sangat penting. Pendidikan perlu menjadi ruang yang aman untuk belajar, bertanya, dan betumbuh.
Tempat di mana anak-anak tidak hanya dinilai dari angka, tetapi juga dihargai sebagai manusia yang sedang mencari jati diri. Pendidikan yang baik tidak menjanjikan hidup tanpa masalah, tetapi membekali manusia dengan kekuatan untuk menghadapi hidup dengan tenang dan bermakna.
Pada akhirnya, sukses bukanlah tujuan akhir yang sama bagi semua orang. Setiap orang memiliki perjalanan dan ukuran keberhasilannya sendiri. Pendidikan seharusnya membantu setiap individu menemukan makna sukses versi dirinya, bukan memaksakan satu standar yang sama.
Di dunia yang semakin sibuk mengejar hasil, pendidikan diharapkan mampu mengingatkan kita pada satu hal sederhana namun penting: bahwa hidup yang berhasil bukan hanya tentang sejauh apa kita melangkah, tetapi tentang bagaimana kita tetap menjadi manusia dalam setiap langkahnya.

Posting Komentar untuk "Ketika Pendidikan Gagal Menjawab Pertanyaan Paling Penting: Apa Itu Sukses?"